***AHLAN WA SAHLAN WA MARHABAN BIKUM DI BLOG ADI MANSAH LUBIZ*** assalamualaikum Pictures, Images and Photos
zwani.com myspace graphic comments
Graphics for Welcome Comments
Showing posts with label PALANTA. Show all posts
Showing posts with label PALANTA. Show all posts

Thursday, December 24, 2009

Suami Yang Minta Ijin Poligami



Istriku,
Jika engkau bumi, akulah matahari
Aku menyinari kamu
Kamu mengharapkan aku
Ingatlah bahtera yg kita kayuh, begitu penuh riak gelombang
Aku tetap menyinari bumi, hingga kadang bumi pun silau
Lantas aku ingat satu hal
Bahwa Tuhan mencipta bukan hanya bumi, ada planet lain yg juga mengharap aku sinari
Jadi..
Relakanlah aku menyinari planet lain, menebar sinarku
Menyampaikan faedah adanya aku, karna sudah kodrati
dan Tuhan pun tak marah...

Balasan Puisi sang istri ...

Suamiku,
Bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya
Aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet yg pernah TUHAN
ciptakan karna mereka juga seperti aku butuh penyinaran dan akupun juga
Tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu
AKAN TETAPIIIIIIII..
Bila kau hanya sejengkal lilin yg berkekuatan 5 watt, jangan bermimpi menyinari planet lain!!!
Karena kamar kita yg kecil pun belum sanggup kau terangi
Bercerminlah pd kaca di sudut kamar kita, di tengah remang-remang
Pencahayaanmu yg telah aku mengerti utk tetap menguak mata
Coba liat siapa dirimu... MENTARI atau lilin ? PLIS DEH...!!!

Friday, October 30, 2009

Seperti Himar


Sahabat, Siapa sih yang ga’ kenal ma Si Himar?, Makhluk Allah SWT yang satu ini emang terkenal dengan kedunguannya. Walaupun kadang kita kasihan melihat kekejaman manusia terhadap himar, karena selain penurut hewan ini lambat bergerak yang identik dengan malas. Tapi kita juga hrus bisa mengambil teladan dari Si Himar...! penasaran khan...?

Himar ini memang terkenal sering berbuat kesalahan dan kecerobohan, apalagi dia ni lamban ga kayak kakaknya Si Kuda, tapi sebodoh-bodohnya himar tak pernah terperosok ke lubang yang sama dua kali. Klo terperosoknya empat sampe lima kali, wah...bisa jatuh kredibilitas dia sebagai himar...! (yee...). Kali itu rahasianya kenapa himar jalannya lambat awi...? ga’ percaya tanya aja ma himar...!

Sahabat, nasihat kali ini mungkin mudah; Jadilah seperti himar...!, eit...jangan sewot dulu. Artinya kita harus belajar dari pengalaman !, kesalahan, kegagalan, keberhasilan semua adalah pengalaman. Bahkan klo bisa kita belajar dari pengalaman orang lain (biar pinteran dikit dari himar). Terakhir kenapa T. Alfa Edison bisa berhasil menciptakan bola lampu hayoo...? karena dia telah gagal ratusan kali membuatnya, wah...berarti dia belajar dari himar donk...?. Tapi tenang aja saya percaya klo kamu-kamu tuh lebih pinter dari himar kok...! 

Thursday, October 1, 2009

Air Mata dari Ranah Minang


01/10/2009 23:55
Liputan.com, Padang: Air mata telah jatuh di Ranah Minang. Duka dan kesedihan mendalam seakan tak henti mengalir pascagempa yang menggoncang Sumatra Barat Rabu (30/9). Hingga Kamis (1/10), berbagai instansi terkait melaporkan jumlah korban tewas sebanyak 529 orang. Korban terbanyak berasal dari kota Padang mencapai 376 jiwa.

Berbagai infrastruktur pun luluh lantak akibat musibah ini, salah satunya adalah gedung bimbingan belajar Gama di Jalan Proklamasi, Padang. Diperkirakan 50 jenazah anak-anak dan para pengajar yang berada di ruang tiga lantai itu tertimbun reruntuhan.

Sejak pagi hari, orang tua korban hanya bisa menangis dan meraung-raung menyaksikan pemandangan nahas tempat belajar putra putri mereka. Isak tangis memuncak saat tim evakuasi yang terdiri dari para relawan, aparat Polri, dan TNI mengevakuasi satu persatu jenazah yang kebanyakan adalah siswa SD dan SMP.

Berdasarkan laporan reporter SCTV, Ido Sitompul, sedikitnya 14 korban yang telah berhasil dievakuasi hingga petang tadi. Dua belas di antara mereka yaitu sebelas siswa dan satu guru yang sudah dapat dikenali identitasnya. Karena gedung bimbel itu terletak berdampingan dengan gedung lain di antaranya restoran, maka diperkirakan jumlah korban dari lokasi tersebut akan terus bertambah.

Pada pukul 18.00 WIB, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama ibu negara dan beberapa menteri memantau langsung lokasi evakuasi para korban. Presiden menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya pada warga dan berharap masih ada korban selamat dari puing-puing gedung tersebut. SBY juga menjanjikan bahwa proses evakuasi ini akan terus berlangsung optimal. Sementara Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Aburizal Bakrie mengatakan akan ada dana tanggap darurat sebesar Rp 190 miliar untuk menanggulangi bencana.

Akibat musibah ini, jaringan listrik dan komunikasi di Padang lumpuh total. PT Perusahaan Listrik Negara menyebutkan terdapat empat gardu listrik di Kota Padang yang rusak. Hingga petang tadi, PLN mengirim sejumlah petugas untuk memulihkan jaringan listrik, terutama di beberapa layanan umum seperti rumah sakit dan tempat-tempat pengungsian.

Gempa juga terjadi di Jambi dan Bengkulu. Dengan kekuatan 7,0 SR yang berpusat di Jambi, sedikitnya 500 rumah di Kabupaten Kerinci rusak parah. Ratusan rumah tersebut tersebar di tiga kecamatan yaitu Sulak, Gunung Kerinci, dan yang terparah daerah Gunung Raya. Salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kerinci, Subur Budiman mengatakan hingga kini masih belum diketahui secara pasti jumlah korban jiwa di wilayah Jambi. Kendati demikian, masyarakat sangat membutuhkan bantuan seperti tenda, makanan, dan obat-obatan.

Tak hanya merusak rumah, gempa di Jambi juga memutus sejumlah jalur transportasi darat akibat banyaknya wilayah yang dilanda tanah longsor. Di jalan penghubung Jambi dengan Sumatra Barat, terdapat antrean kendaraan yang panjang. Bahkan ada beberapa kendaraan yang terguling dan terperosok di jalan berbukit di kawasan itu.

Indonesia adalah negeri kepulauan yang rawan bencana alam. "Kita memang hidup di kawasan rawan bencana," ucap Kabid Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG, Mohammad Riyadi. Ia menganjurkan agar masyarakat menyadari kenyataan ini dan selalu waspada akan bencana-bencana selanjutnya.

Iwan Teja Kusuma, Ahli Gempa dan Tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan gempa tidak dapat diprediksi secara tepat. Ia mengungkapkan musibah di Sumbar ini terjadi akibat tumbukan lempeng Indoaustralia dan Euroasia. Karena tumbukan ini bersifat dinamis, maka gempa susulan sangat mungkin terjadi.

Iwan berpendapat pemerintah seharusnya mengubah paradigma terhadap bencana selama ini. Ia menganjurkan tindakan preventif seharusnya lebih digalakkan daripada tindakan reaktif.(WIL/VIN)

http://berita.liputan6.com/progsus/200910/246035/Air.Mata.dari.Ranah.Minang

Tuesday, August 18, 2009

Kebinalan Saat Bulan Puasa


Oleh : Adi Alfarouq

kayak yang lo ketahui gw kalo bulan puasa itu rajin sholat tarawih sama temen2. inilah jadwal gw saat tarawih bulan puasa.-hari pertama : sholat isya+ sholat tarawih full + sholat witir-hari ke sepuluh : sholat isya + sholat tarawih 8 rokaat + witir dirumah (kalo inget)-hari ke 15/20 : sholat isya + sholat tarawih 4 rokaat - witir-hari2 terakhir : sholat isya + keluyuran nyari petasan
hobi gw kalo bulan puasa itu jalan2 muter2 komplek. kadang2 iseng juga, keisengan pertama itu "mencet-mencetin bel rumah orang" pemilik rumah pernah sampe lari2 pake anduk doang dikira ada tamu ternyata cuma angin, besok2nya dia masuk angin. saking seringnya gw dan temen2 gw pernah ke-gab tukang becak.tukang becak : OOH JADI ELU YANG PENCET2IN BEL NI RUMAH??gw : (panik, kebetulan hari itu bukan gw yg pencet)tersangka : e..engga bang, rame2 kokgw dan temen2 lain : (pura2 gak kenal, stay cool, sebagian kabur)tersangka : (keringet dingin ngeliat tu tukang becak nyerocos aja dengan nafas khas baujengkol)tersangka : maap bang.. ga lagi2 deh (langsung cabut tanpa perasaan)disaat seperti ini emang solidaritas tak berlaku lagi, apalagi yg dihadapi tukang becak yg betisnya kayak tales bogor. keisengan kedua kta itu mutusin bendera bekas 17an, begini metodenya1. ada bendera yg msh nyambung diantara tiang2 listrik2. lait keadaan ada tukang becak apa engga3. sangkutin sarung ke tali bendera tsb4. betot/tarik sampe pada putus smua5. kabur dengan hasil jalanan dipenuhi benderakeisengan ini juga pernah ke-gab tp bukan sama tukang becak, sama ibu2. si ibu pertama cuma bengong, trus dia bilang "mas bendera yang di gang sebelah cabutin skalian dong" anjrit!! dikira kita itu tukang bersih2 komplek, dia gak liat jg metode kita pake sarung, sungguh sial. keisengan ketiga itu matiin lampu2 yg ada dijalanan komplek, ini emang yang paling iseng, kalo kita liat ada steker (ctek2an yg ada di tiang listrik buat nyalain ato matiin lampu jalan) kita langsung matiin trus kabur, alhasil jalanan jadi gelap, tapi cuma disatu titik. kejadian kedua, kita gak tau kalo steker ini pararel, jd kalo dimatiin lampu jalan satu kampung mati semua, temen gw dengan enaknya ngematiin lampu tersebut dan klaaap!!! jalanan sekomplek gelap gulita, kedengeran suara tukang becak yg kayak mesin parutan kelapa tereak2 kesetanan, ada yang baca2 doa dikira bakal kiamat, ada suara emak2 yang cempreng bgt dia bilang " ANAK SETAN" gw ama temen gw yg gak bisa saling liat kabur2an aja, tiba2 lampu nyala lg, ternyata yang nyalain om2 berkacamata, dia bilang "wah lampunya korslet lagi" tukang becak bilang "oh..korslet mas? saya kira dimatiin ama bocah2 " kita selamat karena kesotoyan orang berkacamata tadi. korslet gimana orang jelas2 tadi stekernya turun. emang tidak semua orang berkacamata itu pinter.emang itu keisengan2 gw sama temen2 saat bulan puasa, ckckck, emang peristiwa ini uda lumayan lama tapi, si tukang becak setiap bulan puasa selalu stand by ngejagain rumah yg ada belnya, dan sesekali kalo gw lewat di depannya dia, dia cuma bisa ngeliatin dengan tatapan iblis, asem banget si tampangnya.
udalah yg penting jangan ditiru yaa..hehe

http://bolaisbundar.blogspot.com/2009/05/kebinalan-saat-bulan-puasa.html#comment-form

Sunday, August 2, 2009

Rumik Kamari Bedo


Oleh : bujangsetia.blogspot.com



Lapau Uwo Pulin agak langang dari hari-hari biasonyo. Ajo Tondeh, Pak Osu, Kudun, Malin Kacindin sarato Uncu Labai indak nampak batang iduangnyo. Manuruik kaba dari Uwo, urang-urang tu pulang kampuang dan ado pulo nan pai ziarah ka kubua kaluarganyo di Tunggua Hitam. “Biaso, kalau manjalang bulan puaso ko kan paralu awak baziarah ka kubua urang gaek awak surang-surang,” kato Uwo Pulin manjawek tanyo dari Angah Piyan nan baru sajo sampai di lapau tu. “Iyolah! Itu paralu. Awak indak hanyo mamintak maaf ka kaluarga nan masih iduik, tapi juo paralu ka arwah kaluarga awak nan lah labiah daulu. Apolai kalau itu urangtuo awak nan lah mandaului. Karano, salamo-lamo iduik, awak juo ka sampai di sinan. Kan bantuak itu ndak Tan?” Baleh Angah mampaiyokan ka Tan Baro.

Tan Baro cuma maangguak tando sapaham jo pandapek kawannyo tu. Pandangan matonyo taruih juo ka surek kaba nan sadang dibaconyo. Ciek kato indak dilampaui mambaconyo.

“Apo barita kini ko? Agak sarius bana Tan Baro mambaco nampak dek ambo,” Angah batanyo sasudah mancurahan saparo kopi ka piriang tadah nan baru sajo diidangkan dek urang punyo lapau tu.

“Nan angek bana indak ado doh. Cuma ado nan manarik dek ambo, yaitu nasib urang-urang nan dikubuakan di Tunggua Hitam,” jawek Tan Baro.

“Baa tu?” Angah manyasak.

“Buruak bana nasibnyo nampak dek ambo,” jawek Tan Baro baliak.

“Yo, baa tu?” Angah samakin panasaran.

“Cubo bayangkan dek Angah, lah mati, lah jadi tulang jo tangkurak dan bahkan lah jadi tanah lo liak di dalam kubua, kanai gusur juo lai. Padohal, katiko iduik, banyak pulo nan tiok sabanta kanai gusur dek Satpol pe-pe, ulah manggaleh di sumbarang tampek,” kato Tan Baro jo suaro nan agak lambek.

“Ah, nan ka iyo-iyo se lah, Tan? Maso iyo urang dalam kubua diusie atau digusur juo. Apo salahnyo?” Udin Kuriak nan dari tadi cuma sabagai pandanga, sato juo batanyo.

“Nan salah indak urang nan dalam kubua tu doh, tapi kaluarganyo. Seyo, kontrak atau pajak kubua tu indak dibayia, mako tapasolah tulang jo tangkuraknyo jadi korban,” jawek Tan Baro.

“Katalaluan bana kalau bantuak itu mah. Maso iyo urang dalam kubua digusur juo. Dima lataknyo manusiawi awak?” Udin mangecek baliak.

“Kato pamarentah, itu aturan!” Baleh Tan Baro.
“Aturan tu nan mambuek kan manusia ndak? Kalau manusia, ambo raso masih bisa diubah. Kalau indak diubah, tantu samakin rumik dan samakin bedo manusia-manusia di nagari ko dibueknyo. Sudahlah katiko iduik marasai, tibo di liang kubua diusie-digusur pulo,” kasudahannyo Angah Piyan mangaluakan pandapeknyo. Nampak inyo agak emosi.

“Kalau itu kajadiannyo, yo rumik awak manjadi pauni nagari ko mah,” Kari Garejoh lah sato pulo mangecek.

“Kalau nan bantuak Kari ko maningga, ndak paralu bana kubua doh,” salo Uwo Pulin.

“Baa tu?” Tanyo Udin.

“Ambauan se ka dalam lawik tu, bia dimakan hiu,” baleh Uwo.

Kari nan dipagarahan bantuak itu hanyo bisa galak masam se. Maklum, namonyo di lapau tantulah ado garah jo kucindan dan itu disadari bana dek Kari. Apolai salamo ko inyo tamasuak urang nan suko mampagarahan kawan-kawannyo di lapau tu. Espe St.Soeleman



TITIAN BATAKUAK

Kamari bedo parasaan Sabai Nan Aluih kutiko inyo didatangi dek urang padusi mandukuang anak ketek mintak sidakah. Indak kadiagiah sidakah, Sabai maraso badoso, maraso manjadi urang nan indak namuah manoloang urang susah. Kok ka diagiah sidakah, Sabai tahu bana, anak ketek nan didukuang padusi tu bukan anak padusi tu doh. Lah tigo kali Sabai basobok jo padusi tu, satiok basobok balain-lain anak ketek nan dibaonyo. Kutiko Sabai sadang tabedo tu, datang Mangkutak. 

"Baa kok tamanuang aciak mancaliak urang padusi tu pai? Lai aciak agiah sidakah? Kan ibo awak dek anaknyo ndak ciak, " kato Mangkutak. 

"Nan jadi persoalan dek Ai bukan maagiah sidakah atau indak. Tapi padusi tu sangajo mambao anak ketek, supayo Ai ibo. Kalau Ai ibo, Ai tantu musti maagiah sidakah. Ai marasoan, padusi tu sangajo manjadian anak ketek tu sebagai alat untuk manguras raso ibo Ai. Itu nan indak satuju Ai," jawek Sabai. 

"Iyo baitu caro urang mangumpuakan kepeang kini ciak. Cubo aciak bayangkan. Kutiko Istano Basa nan di Padang Siminyak tu lah jadi abu dek tabaka ditembak patuih, kabanyo sado urang Minang tasentak. Maraso kahilangan kebanggaan. Kutiko tu langsuang diputuskan dek pamarentah untuk mambangun baliak istano basa tu," kato Mangkutak. 

"Baa mako musti? Kan pitih sangaik diparaluan dek urang Minang nan manjadi korban gampo? Rumah sikola, musajik, rumah rakyat runtuah, jalan rangkah, ado nan mati, ado nan tatimbun. Kan itu nan musti awak dauluan daripado mambangun Istana tu?" kato Sabai. 

"Itu batua ciak. Batua bana pikiran aciak tu. Dauluan urang nan menderita daripado mambuek bangunan mewah nan indak jaleh gunonyo dek urang banyak," kato Mangkutak. "Tapi ciak, pamarentah labiah mamaraluan mangumpua pitih untuak mambangun istana rajo tu. Tahu aciak sababnyo?" tanyo Mangkutak. 

"Apo tu sababnyo?" tanyo Sabai. 

"Saroman padusi nan mambao anak ketek tadi tulah. Kalau emosi awak tapanciang, lupo awak bahaso padusi tu lah mangicuah awak. Awak agiah sidakah, padohal anak nan nyo bao tu anak urang nan diseonyo. Mambangun Istano Basa baitu pulo. Tapanciang emosi urang Minang, aka ilang, langsuang manyumbang baratuih juta. Samantaro Istano Basa tu isinyo kicuah se sajak dulu," kato Mangkutak. 

"Kicuah baa?" tanyo Sabai tagagau. 

"Lai ka mungkin dek aciak, boto wisky dikecek an benda sejarah? Padohal boto wisky tu mungkin tatingga di Istano tu dek pareman nan mabuak-mabuak di sinan. O, banyak lai ciak kok waden caritokan sadonyo. Kini baitulah, cubo aciak pikie, jo pikiran sehat, jo pikiran waras. Apo bana paralunyo mambangun baliak istano rajo tu capek-capek. Saroman urang Minang ko ka cilako bisuak pagi, kalau indak dibangun istano kini-kini," kato Mangkutak. 

"Manuruik analisa Ai, kalau memang baitu kandak pamarentah tantu ado udang di baliak batu. Sagalo urang Minang lah tapakiak mintak bantuan dek gampo, tapi nan pamarentah basikareh nak mambangun istano basa salakeh-lakehnyo. Ado apo?" kato Sabai sambia mamiciak-miciak kaniangnyo. 

"Jaan jaan iko samacam titian barakuak ndak ciak?" kato Mangkutak. 

"Titian barakuak baa?" tanyo Sabai. 

"Kalau pamarentah basikareh juo nak mambangun baliak istano rajo tu samantaro masyarakat Minang ko sadang maluluang panjang kadinginan, indak cukuik makan dek karano sagalo harato bando abih dek gampo, tantu masyarakat indak puas jo caro karajo pamarentah. Pamarentah tu manuruik urang banyak ko adolah gubernur. Kalau tajadi katidakpuasan tu, tantu gubernur ko akan dibanci urang, indak ka namuah urang mamatuhi aturannyo lai doh," kato Mangkutak. 

"O, jadi ado urang lain nan sadang mancubo manjatuahan gubernur, baitu? Itu nan waang mukasuik jo titian barakuak?" tanyo Sabai. Mangkutak maangguak. 

"Ciek lai ciak. Kalau gubernur basikareh nak mambangun baliak istano basa tu, tantu persoalan tanah musti capek disalasaian. Kalau tanah bamasalah, tantu dibuek aka supayo baa sagalo tanah nan ado di sinan dapek disalasaian. Samantaro, tanah nan sakaliliang istano tu lah dipajua balian jo sertifikat palasu. Jadi, soal tanah nan alah dilego tu tatimbun dek usaho gubernur manyalasaian tanah tu," kato Mangkutak. 

"Iyo, iyo. Saroman iklan minyak pelumas pertamina di tipi tumah Mang. Kita untung bangsa untung! Ha, ha," kato Sabai sambia galak gadang.(wisran hadi)

Friday, July 3, 2009

Gelar Dari Minang

Usman Chaniago, supir camat di Payakumbuh, minta berhenti karena ingin merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib.

Mula-mula dia bekerja sebagai tukang kantau di Tanah Abang, setelah dapat mengumpulkan sedikit modal dimulai pula menggelar dagangannya di pinggir jalan di Tanah Abang.

Nasib rupanya memihak kepadanya, beberapa tahun kemudian dia berhasil memiliki kios kain di dalam pasar. Dia pun berkeluarga dan memiliki 2 anak. Bahkan tahun ini dia membangun rumah di Depok, di lingkungan perumahan dosen UI.

Karena tetangganya semua akademisi, macam-macam gelarnya, ada Prof., ada Phd. dll. Usman merasa malu kalau papan namanya tidak tercantum gelar seperti tetangganya.

Dibuatlah papan naman dari perak, dipesan dari Koto Gadang, dengan nama DR.Usman Chaniago MSc.

Ketika ayahnya datang berkunjung, sambil bangga dia bertanya di mana anaknya kuliah, sebab setahu dia, Usman hanya berdagang.

Dengan malu-malu Usman menerangkan gelarnya di papan nama, "Nama itu artinyo 'Disiko Rumahnyo Usman Chaniago Mantan Supir Camat'."

Bagaimana Cara Masuk Surga


Pada suatu hari ada seorang guru yang bertanya kepada muridnya

Guru : "Anak-anak pak guru ini sudah tua , pak guru sudah banyak berbuat baik kepada kalian.Apakah pak guru ini bisa masuk surga ?"

Murid: "TIDAK!!!!!!!"

Guru : "Lho mengapa tidak bisa ? pak guru kan sudah sering berbuat baik kepada kalian."

Murid: "TIDAK!!!!!!!"

Guru : "Kalau begitu pak guru akan bertanya kpada kalian.bagaimana caranya agar pak guru dapat masuk surga ?"

Murid: "caranya pak guru harus meninggal dunia dulu baru bisa masuk surga"

Guru : "Dasar kalian kurang ajar !!!!!!"